Selasa, 09 Oktober 2012

Renungan - Islamisasi, Jawanisasi dan Masa Depan Hindu Bali

Istilah diatas tidak asing lagi ditelinga kita. Sejak jaman sebelum kemerdekaan, sejak jaman sebelum penjajahan, istilah tersebut belum muncul. Namun setelah beberapa dekade aktivitas istilah tersebut mulai tenar dan sering dipakai oleh para pembicara baik yang formal maupun non formal. Namun, marilah kita telaah dan pelajari satu persatu guna mendapatkan suatu pandangan yang berbeda, walaupun sudah banyak dibahas baik dalam kamus maupun dalam berbagai kesempatan oleh para tokoh.
Istilah pertama Islamisasi

Sejak Majapahit runtuh dengan penyerangan raden patah ke trowulan, Maka dimulailah babak baru penyebaran agama Islam di Nusantara. Sebelum itu, sebenarnya sudah dilakukan, namun belum maksimal dikarenakan penolakan masyarakat dikala itu dimana penguasa masih memegang kekuasaan yang saat itu beragama Siwa Budha.

Maka diupayakan suatu cara untuk meruntuhkan kerajaan Majapahit dikala itu. Pengorbanan seorang putri Campa yang beragama Islam, telah menjadi catatan sejarah keruntuhan kejayaan Majapahit dan Agama Siwa Budha yang terkenal akan kemampuannya mensejahterakan rakyat. Pelan tapi pasti pasca pernikahan Prabu Brawijaya dengan Putri Campa, penggerogotan terhadap kerajaan dimulai. Konsep devide et impera atau pecah belah dimulai. Punggawa kerajaan yang melihat jeli hal tersebut berusaha menasehati dan membebaskan raja, namun ditumpas habis oleh raja sendiri karena disebut sebagai pemberontak. ini adalah karya nyata pengaruh seorang permaisuri raja.

Aksi Islamisasi dimulai dengan menyebar wali songo. Setelah sumatra habis, maka jawa adalah tujuan selanjutnya. Buku-buku pelajaran SD sampai SMA ditulis bahwa Islamisasi jawa dilakukan secara damai. Namun semua itu adalah kebohongan besar pemutar balikan sejarah. Islam masuk dengan berbagai taktik adu domba yang mengikuti gaya nabi nya. Islam menyebar dengan aroma sarat kekerasan. Pemaksaan dan penindasan mulai terlihat terutama setelah majapahit hancur yang di serang oleh Prabu Brawijaya, anak sendiri yaitu raden patah. Bagaimana bisa disebut masuk dengan damai, jika kenyataannya, seorang anak tega menyerang dan menghancurkan kerajaan bapaknya sendiri, padahal dialah pewaris tahta kerajaan. Masihkah ada rasa cinta kasih sayang antara keluarga? Islam telah mempengaruhi dan merusak moral seorang anak dengan doktrin dan janji-janji masuk sorga. Setelah keruntuhan Majapahit, maka dapat dibayangkan, betapa pemaksaan keyakinan terjadi dimana-mana. Semua yang berbau agama sebelumnya, dihancurkan dan haramkan. Kebudayaan Agama Siwa Budha yang begitu terkenal telah diakhiri. Masuknya Bangsa Eropa ke Indonesia yaitu Belanda,Portugal serta portugis telah membuat misi meng Islamkan Nusantara sempat terhenti sementara. Namun upaya tersebut tidak pernah surut. Penanaman doktrin Islam dilakukan dengan asimilasi budaya. Budaya dipakai sarana dalam berbagai kesempatan. Namun dibalik itu, ada misi tersembunyi. Setelah mendapat didikan Islam, mulailah orang-orang jawa menuju daerah lain. Maka mulailah jaman jawanisasi. Jawanisasi merupakan sebuah istilah dimana orang-orang di jawa ditugaskan untuk menyebarkan Islam dengan cara apapun termasuk juga dengan kekerasan keberbagai daerah. Mereka bermukim dan terus menyebarkan Islam ke penduduk lokal. Dikalimantan, orang-orang yang tidak mau mengikuti Islam, menyingkir ke pedalaman dan mendapat sebutan suku dayak yang artinya orang-orang pilihan yang masih mempertahankan keyakinan awal(dayak=diayak=disaring). Di sulawesi juga melakukan hal yang sama yang dikenl dengan istilah suku Toraja, dan banyak lagi nama-nama suku yang memang masih menganut kepercayaan awal yang dikenal dengan banyak nama seperti Kaharingan, Toraja dan sebagainya. Jawanisasi sangat jelas terjadi di jaman presiden Suharto dengan program transmigrasinya.

Pertanyaannya, Masihkah aktivitas ini berjalan?

Jawabannya adalah Iya. Metode yang dipakaipun sudah berbeda. Masyarakat lokal yang walaupun sudah Islam, mulai dipengaruhi dan mendapat penguatan doktrin kekerasan. Praktek ini terus berjalan, dengan perkawinan, atau jalan kekerasan yang dibenarkan dalam Islam untuk tujuan yang dikatakan “Baik”. Bali yang dulunya tidak mampu terjamah, pelan tapi pasti mulai ada pengaruh dengan dalih Bali yang tentram, toleran dan saling menghargai. Pembangunan mesjid terjadi dimana-mana. Pura yang dulunya jauh dari pemukiman mulai didekati dan dijadikan hunian. Sedangkan Pura yang ada diluar Bali, didekati dan dipersoalkan walaupun dulunya jauh dari pemukiman penduduk. Artinya ada sebelum mereka lahir. Penghancuran terjadi dengan terang-terangan dengan berbagai alasan yang tidak bisa diterima dengan akal sehat. Istilah Wali pitu yang santer terdengar beroperasi di Bali, kurang mendapat perhatian masyarakat Hindu di Bali. Berbeda dengan Lombok, Pemaksaan terhadap keyakinan terang benderang terjadi, “mati atau masuk Islam”. Hanya ada 2 pilihan ketika seorang pemuda Hindu ingin mengawini seorang perempuan Islam.

Lepasnya perhatian masyarakat Hindu di Bali terhadap tindak tanduk penyebaran Islam, akan menjadi bumerang bagi masa depan Bali. Terlebih generasi mudanya juga tidak perduli dengan apa yang terjadi di sekitarnya.Konsekuensi yang terjadi adalah, Bali akan kehilangan daya tarik dan seluruh kebudayaan nya. Terlebih dengan derasnya arus globalisasi yang mendewakan iptek. Maka generasi muda Hindu di Bali adalah korban selanjutnya dan Bali akan sirna bersama kemewahan semu. Tidak adanya upaya untuk menghalau pendatang dan orang-orang yang berkepentingan menyebarkan Keyakinan di Bali, dalam 10 tahun mendatang akan merubah wajah Bali. Tanda-tanda tersebut telah nampak jelas, dimana area yang disucikan dan disakralkan, telah dikomersilkan. Kejahatan juga telah terjadi hampir setiap hari. Pemerintah daerah nampak tanpa upaya yang jelas untuk membatasi gerak Islamisasi dan Jawanisasi. Momen apakah yang ditunggu pemda Bali dengan fenomena ini? Upaya pemerintah pusat pun sejalan dengan upaya para penyebar agama ini. Sebagai contoh adalah program KB dimana Bali menempati peringkat pertama secara nasional. artinya program tersebut telah berhasil menekan penambahan jumlah penduduk masyarakat Bali, sehingga program urbanisasi ke Bali menjadi agenda tersembunyi. Generasi Muda Hindu di Bali, harusnya sadar akan marabahaya yang mengintai. dalam jangka waktu 10-20 tahun lagi,Tidak akan ada lagi ada tradisi omed-omedan, tidak akan ada lagi mekiis, membuat ogoh-ogoh, perayaan Nyepi, Galungan Kuningan dan berbagai tradisi lainnya. Pemuda-pemuda Bali, terus dituntut oleh orang tuanya untuk bekerja,bekerja dan bekerja untuk memenuhi kebutuhan dan ke-egoan keluarga. sehingga kesempatan pemuda sebagai penerus tidak berkesempatan melihat, memperhatikan dan berupaya mengajegkan Hindu dan Bali. Pemuda sekarang adalah agen ke-egoan.

Harapannya, pemuda sadar akan marabahaya yang mengintai. Upaya yang sedikit ekstrim harus segera dilakukan. Kondisi pemuda Hindu yang saat ini sedang tidur, harus segera bangun dan mengambil langkah-langkah nyata. Jika tidak, maka airmata akan menunggu kita dimasa Tua. Penyesalan akan datang cepat atau lambat.


0 komentar:

Posting Komentar